Butuh waktu lama yah ternyata untuk memberanikan diri menulis lagi. Terakhir gue menceritakan sesuatu yang mendalam, entah secara verbal ataupun non verbal, timbal baliknya jauh dari ekspektasi, dan tidak menyenangkan. Bikin trauma, mungkin ya?
Curhatan kali ini dimotori oleh kekesalan yang gue pendam sejak pagi. Hm, ada baiknya gue kasih latar belakang cerita ini dulu. Gue, sedang tidak ada kerjaan a.k.a nganggur untuk beberapa saat ini. Gue sedang fokus untuk mempersiapkan dokumen-dokumen S2 gue yang kayaknya kok gak selesai-selesai juga. Gak deng, gue yang terlena dalam kata-kata "ngumpulin niat". Tapi gue mau membela diri. Dengan kayak gitu, bukan berarti gue gak ada kemajuan dalam mempersiapkan dokumen ini. Gue tiap hari bolak-balik mencari universitas yang mungkin menarik dan bisa menjadi destinasi studi gue dalam waktu dekat ini, meskipun pada dasarnya gue punya beberapa universitas yang memang sudah gue incar. Dan masih ada beberapa dokumen lain yang harus gue cocokkan untuk setiap universitas yang gue tuju, mengingat setiap universitas pasti punya persyaratannya masing-masing.
Long story short, gue memang belum berniat untuk mencari kerja, dan gue berjanji sama diri gue sendiri dan Ibu bahwa gue akan mencari kerja di akhir bulan Agustus atau awal bulan September. Ibu gue mendukung keputusan gue, dan berusaha mengerti posisi gue yang sekarang. Bapak gue mah diem-diem weh. Nah, Abang gue recet tadi pagi. Abang gue juga menganggur, mau menjalani kerjaan sesuai passionnya juga ceunah. Passion-nya sejauh ini yang gue tau sih kongkow dan leha-leha. Gatau kalo ada passion lain yang terpendam ya. Akhir-akhir ini dia cuma bantu Ibu mengelola toko. Balik ke kejadian tadi pagi. Gue bangun ya agak siang, sekitar jam 8 gitu dan menetap di kamar sampai setengah 12 siang. Mencoba produktif dengan belajar bahasa Inggris dan Bahasa Belanda. Dia gak liat dong. Taunya dia gedor kamar gue untuk membereskan rumah, hal yang setiap hari gue selalu lakukan ketika dia asik kongkow keluar sama temennya. Dulu, kita selalu berbagi tugas, biasanya gue nyapu, dia ngepel. Terus dengan emosinya abus gedor kamar dia nanya "lo mau nyapu apa ngepel? apa jaga toko? lo gak ngapa-ngapain juga kan di rumah?" (dengan nada sinis). WOW.
Mari kita tarik adegan balik ke beberapa waktu lalu. Ibu gue sering banget negur dia karena menjadi pemuda yang tidak produktif, dan akhirnya meminta dia untuk membantu Ibu gue di toko Ibu. Dia selalu bilang "Kok selalu Kakak? Adek kok gakpernah dimintain kayak gitu?" Intinya mah dia merasa hidupnya penuh tuntutan karena dia menyandang gelar "Kakak" dan hidup gue selalu enak karena bergelar mulia "Bungsu". Let me tell you guys something, yang mungkin kalian para bungsu juga mengalaminya.
1. Basically, Sulung dan Bungsu Tidak Pernah Ada di Konsep Keluarga Gue
Ibu dan Bapak gue tidak pernah membedakan yang mana yang Sulung dan yang mana yang Bungsu. Kata Ibu, ngelahirin dua-duanya sama-sama sakit, sama-sama berdarah. Dari kecil pun perlakukan ke kita berdua secara keseluruhan sama, kalo ada yang nakal ya di hukum. Karena pas kecil kita suka main bersama, ya kalo ada barang di rumah yang pecah, dua-duanya sama-sama di hukum. Seinget gue, gue selalu dihukum madep tembok dan berdiri disamping kiri Abang gue. Gak inget kalo pernah dihukum sendirian. Gue juga sama sekali gak pernah denger alasan "Ya dia kan Kakak" dari Ibu gue. Bahkan gue gak pernah secara eksplisit diajari hormat sama Abang gue. Kalo salah ya gue disuruh ngomong langsung, suruh bilang kalo gue gak suka, Ibu gue gamau ikut campur. Begitu juga sebaliknya. Satu hal yang paling gak relatable di keluarga gue adalah Sulung Bantu Cari Uang untuk Biayain Si Bungsu. Seumur-umur gue gak pernah dengan orang tua gue bilang kayak gitu. Bukan, bukan karena kita bergelimang harta. Gak ngerti juga sih alasan ortu gue gak pernah bilang gitu, yang jelas gue gak pernah denger aja. Dan Abang gue pun kayanya juga gak pernah kepikiran cari uang untuk biayain gue, jadi mungkin dia tidak pernah mendengar tuntutan ini juga. Gak semua Bungsu akan selalu di bela orang tua, kan?
2. Sulung Punya Kesempatan Lebih Besar untuk Mendapatkan Fasilitas yang Terbaik Sebelum Orang Tua Pensiun
Ini munkin hanya sentimen gue pribadi aja, sih. Tapi paling engga ini yang gue alamin. Gue sama abang gue beda 3 tahun, dan kami hidup di Indonesia yah tentu saja. Di jenjang pendidikan umum (SD, SMP, SMA), anak dengan beda umur 3 tahun itu agak agak merepotkan yah. Harus menjunjung asas keadilan yang hakiki. Satu cari sekolah, yang lain juga cari sekolah. Satu beli seragam SMP, satu beli seragam SMA. Tentunya di tahun kelulusan dan kemasukan ke jenjang pendidikan baru, orang tua gue harus menyiapkan dananya sekaligus. Mari sebut Bapak gue menyiapkan dana 10. Sebut saja 10 yah, tidak ada satuan. Harusnya 5 untuk Abang gue, dan 5 untuk gue kan? Itu tidak pernah terjadi dalam hidup gue. Abang gue selalu menghabiskan 6-7nya, atau mungkin 8. Dan gue selalu termotivasi untuk masuk sekolah Negeri agar sisa dana yang berkisar 2 sampai 4 itu cukup. Disclaimer, gue TIDAK PERNAH merasa bahwa orang tua gue tidak adil ya. Pada dasarnya, Bapak gue gak pernah menyatakan bahwa 10 itu angka saklek, dan tidak pula menyatakan bahwa keadilan adalah berupa 5 untuk Abang dan 5 untuk Bungsu. Keadilan adalah gue dan Abang gue diberikan sesuai dengan apa yang kami butuhkan. Jadi, dulu pun gue sama sekali gak pernah merasa iri.
Saat gue mau kuliah, Abang gue udah mau masuk tingkat akhir tuh, di sebuah universitas swasta yang cukup memakan uang keluarga yah tentunya. Hal ini juga yang mendorong gue untuk cari universitas negeri dan yang dekat dengan rumah gue, untuk menghindari pengeluaran berlebih. Gue sadar persis bahwa uang kuliah Abang gue mahal, jadi gue gak mau merepotkan ortu gue dan mencoba cari alternatif lain untuk meringankan bebannya. Alhamdulillahnya masuk univ negeri, dan deket lagi dari rumah.
Di akhir semester 2, Bapak gue sakit dan tidak bepenghasilan seperti sebelumnya. Abang gue lulus dong. Dari situ, Abang gue masih sempet-sempetnya bilang "gue mau istirahat dulu, capek kan dari kemaren-kemaren belajar" a.k.a mau leha-leha dulu, ketika gue tanya kapan cari kerja. Wis, terserah mulutmu saja. Makin lama, gue makin ngerasa keuangan keluarga gue makin mepet, meskipun masih sangat harus disyukuri. Gue memutuskan untuk bayar kuliah dengan uang tabungan gue dari kecil. Lumayan, bisa ngecover sampai wisuda. Ya intinya, gue sebagai Si Bungsu, tetap harus banyak berkorban untuk mendapatkan apa yang gue inginkan dan perlukan. Tidak seperti Si Bungsu dalam asumsi orang-orang atau ramalan yang membaca tingkah laku. Gak semua Bungsu hidupnya enak, kan?
3. Bungsu Selalu Underpressure untuk Tidak Mengulangi Kesalahan yang dibuat Oleh Sulung
Ya ini mungkin lanjutan dari poin sebelumnya. Abang gue selalu menjalani suatu jenjang lebih dulu daripada gue, entah itu di bidang pendidikan atau yang lain. Dia punya ruang untuk eksplor lebih luas, dan ketika dia melakukan kesalahan, otomatis yang kena wejangan "jangan sampe kayak gitu" adalah gue dong. Meskipun pada dasarnya itu untuk kebaikan gue sendiri. Selain punya tekanan untuk tidak mengulangi kesalahan, gue juga merasa selalu harus lebih baik dari Abang gue. Mungkin ini hanya sifat bawaan gue aja kali ya. Tapi ini paling engga bisa menepis asumsi bahwa semua Bungsu hidupnya enak, kan?
Gue menulis ini bukan berusaha menjadi kontra teori kepribadian sesuai urutan lahir, ya! Gue hanya ingin meluapkan kekesalan gue yet membuktikan bahwa mungkin teori tersebut tidak selalu bisa berlaku bagi semua orang? Kalau gue orang yang berada di titik garis luar kurva, ya mungkin teori itu masih bisa berlaku untuk sebagian besar keluarga. Yang jelas tidak dengan keluarga gue.
Disc: postingan ini tidak untuk membanding-bandingkan Sulung dan Bungsu, tidak untuk mengkritik pola asuh orang tua gue dan manapun, hanya untuk meluapkan sedikit kekesalan gue dan throwback (sekaligus menyombongkan?) hal-hal yang sudah gue lakukan sebagai penyandang titel Si Bungsu.
Curhatan kali ini dimotori oleh kekesalan yang gue pendam sejak pagi. Hm, ada baiknya gue kasih latar belakang cerita ini dulu. Gue, sedang tidak ada kerjaan a.k.a nganggur untuk beberapa saat ini. Gue sedang fokus untuk mempersiapkan dokumen-dokumen S2 gue yang kayaknya kok gak selesai-selesai juga. Gak deng, gue yang terlena dalam kata-kata "ngumpulin niat". Tapi gue mau membela diri. Dengan kayak gitu, bukan berarti gue gak ada kemajuan dalam mempersiapkan dokumen ini. Gue tiap hari bolak-balik mencari universitas yang mungkin menarik dan bisa menjadi destinasi studi gue dalam waktu dekat ini, meskipun pada dasarnya gue punya beberapa universitas yang memang sudah gue incar. Dan masih ada beberapa dokumen lain yang harus gue cocokkan untuk setiap universitas yang gue tuju, mengingat setiap universitas pasti punya persyaratannya masing-masing.
Long story short, gue memang belum berniat untuk mencari kerja, dan gue berjanji sama diri gue sendiri dan Ibu bahwa gue akan mencari kerja di akhir bulan Agustus atau awal bulan September. Ibu gue mendukung keputusan gue, dan berusaha mengerti posisi gue yang sekarang. Bapak gue mah diem-diem weh. Nah, Abang gue recet tadi pagi. Abang gue juga menganggur, mau menjalani kerjaan sesuai passionnya juga ceunah. Passion-nya sejauh ini yang gue tau sih kongkow dan leha-leha. Gatau kalo ada passion lain yang terpendam ya. Akhir-akhir ini dia cuma bantu Ibu mengelola toko. Balik ke kejadian tadi pagi. Gue bangun ya agak siang, sekitar jam 8 gitu dan menetap di kamar sampai setengah 12 siang. Mencoba produktif dengan belajar bahasa Inggris dan Bahasa Belanda. Dia gak liat dong. Taunya dia gedor kamar gue untuk membereskan rumah, hal yang setiap hari gue selalu lakukan ketika dia asik kongkow keluar sama temennya. Dulu, kita selalu berbagi tugas, biasanya gue nyapu, dia ngepel. Terus dengan emosinya abus gedor kamar dia nanya "lo mau nyapu apa ngepel? apa jaga toko? lo gak ngapa-ngapain juga kan di rumah?" (dengan nada sinis). WOW.
Mari kita tarik adegan balik ke beberapa waktu lalu. Ibu gue sering banget negur dia karena menjadi pemuda yang tidak produktif, dan akhirnya meminta dia untuk membantu Ibu gue di toko Ibu. Dia selalu bilang "Kok selalu Kakak? Adek kok gakpernah dimintain kayak gitu?" Intinya mah dia merasa hidupnya penuh tuntutan karena dia menyandang gelar "Kakak" dan hidup gue selalu enak karena bergelar mulia "Bungsu". Let me tell you guys something, yang mungkin kalian para bungsu juga mengalaminya.
1. Basically, Sulung dan Bungsu Tidak Pernah Ada di Konsep Keluarga Gue
Ibu dan Bapak gue tidak pernah membedakan yang mana yang Sulung dan yang mana yang Bungsu. Kata Ibu, ngelahirin dua-duanya sama-sama sakit, sama-sama berdarah. Dari kecil pun perlakukan ke kita berdua secara keseluruhan sama, kalo ada yang nakal ya di hukum. Karena pas kecil kita suka main bersama, ya kalo ada barang di rumah yang pecah, dua-duanya sama-sama di hukum. Seinget gue, gue selalu dihukum madep tembok dan berdiri disamping kiri Abang gue. Gak inget kalo pernah dihukum sendirian. Gue juga sama sekali gak pernah denger alasan "Ya dia kan Kakak" dari Ibu gue. Bahkan gue gak pernah secara eksplisit diajari hormat sama Abang gue. Kalo salah ya gue disuruh ngomong langsung, suruh bilang kalo gue gak suka, Ibu gue gamau ikut campur. Begitu juga sebaliknya. Satu hal yang paling gak relatable di keluarga gue adalah Sulung Bantu Cari Uang untuk Biayain Si Bungsu. Seumur-umur gue gak pernah dengan orang tua gue bilang kayak gitu. Bukan, bukan karena kita bergelimang harta. Gak ngerti juga sih alasan ortu gue gak pernah bilang gitu, yang jelas gue gak pernah denger aja. Dan Abang gue pun kayanya juga gak pernah kepikiran cari uang untuk biayain gue, jadi mungkin dia tidak pernah mendengar tuntutan ini juga. Gak semua Bungsu akan selalu di bela orang tua, kan?
2. Sulung Punya Kesempatan Lebih Besar untuk Mendapatkan Fasilitas yang Terbaik Sebelum Orang Tua Pensiun
Ini munkin hanya sentimen gue pribadi aja, sih. Tapi paling engga ini yang gue alamin. Gue sama abang gue beda 3 tahun, dan kami hidup di Indonesia yah tentu saja. Di jenjang pendidikan umum (SD, SMP, SMA), anak dengan beda umur 3 tahun itu agak agak merepotkan yah. Harus menjunjung asas keadilan yang hakiki. Satu cari sekolah, yang lain juga cari sekolah. Satu beli seragam SMP, satu beli seragam SMA. Tentunya di tahun kelulusan dan kemasukan ke jenjang pendidikan baru, orang tua gue harus menyiapkan dananya sekaligus. Mari sebut Bapak gue menyiapkan dana 10. Sebut saja 10 yah, tidak ada satuan. Harusnya 5 untuk Abang gue, dan 5 untuk gue kan? Itu tidak pernah terjadi dalam hidup gue. Abang gue selalu menghabiskan 6-7nya, atau mungkin 8. Dan gue selalu termotivasi untuk masuk sekolah Negeri agar sisa dana yang berkisar 2 sampai 4 itu cukup. Disclaimer, gue TIDAK PERNAH merasa bahwa orang tua gue tidak adil ya. Pada dasarnya, Bapak gue gak pernah menyatakan bahwa 10 itu angka saklek, dan tidak pula menyatakan bahwa keadilan adalah berupa 5 untuk Abang dan 5 untuk Bungsu. Keadilan adalah gue dan Abang gue diberikan sesuai dengan apa yang kami butuhkan. Jadi, dulu pun gue sama sekali gak pernah merasa iri.
Saat gue mau kuliah, Abang gue udah mau masuk tingkat akhir tuh, di sebuah universitas swasta yang cukup memakan uang keluarga yah tentunya. Hal ini juga yang mendorong gue untuk cari universitas negeri dan yang dekat dengan rumah gue, untuk menghindari pengeluaran berlebih. Gue sadar persis bahwa uang kuliah Abang gue mahal, jadi gue gak mau merepotkan ortu gue dan mencoba cari alternatif lain untuk meringankan bebannya. Alhamdulillahnya masuk univ negeri, dan deket lagi dari rumah.
Di akhir semester 2, Bapak gue sakit dan tidak bepenghasilan seperti sebelumnya. Abang gue lulus dong. Dari situ, Abang gue masih sempet-sempetnya bilang "gue mau istirahat dulu, capek kan dari kemaren-kemaren belajar" a.k.a mau leha-leha dulu, ketika gue tanya kapan cari kerja. Wis, terserah mulutmu saja. Makin lama, gue makin ngerasa keuangan keluarga gue makin mepet, meskipun masih sangat harus disyukuri. Gue memutuskan untuk bayar kuliah dengan uang tabungan gue dari kecil. Lumayan, bisa ngecover sampai wisuda. Ya intinya, gue sebagai Si Bungsu, tetap harus banyak berkorban untuk mendapatkan apa yang gue inginkan dan perlukan. Tidak seperti Si Bungsu dalam asumsi orang-orang atau ramalan yang membaca tingkah laku. Gak semua Bungsu hidupnya enak, kan?
3. Bungsu Selalu Underpressure untuk Tidak Mengulangi Kesalahan yang dibuat Oleh Sulung
Ya ini mungkin lanjutan dari poin sebelumnya. Abang gue selalu menjalani suatu jenjang lebih dulu daripada gue, entah itu di bidang pendidikan atau yang lain. Dia punya ruang untuk eksplor lebih luas, dan ketika dia melakukan kesalahan, otomatis yang kena wejangan "jangan sampe kayak gitu" adalah gue dong. Meskipun pada dasarnya itu untuk kebaikan gue sendiri. Selain punya tekanan untuk tidak mengulangi kesalahan, gue juga merasa selalu harus lebih baik dari Abang gue. Mungkin ini hanya sifat bawaan gue aja kali ya. Tapi ini paling engga bisa menepis asumsi bahwa semua Bungsu hidupnya enak, kan?
Gue menulis ini bukan berusaha menjadi kontra teori kepribadian sesuai urutan lahir, ya! Gue hanya ingin meluapkan kekesalan gue yet membuktikan bahwa mungkin teori tersebut tidak selalu bisa berlaku bagi semua orang? Kalau gue orang yang berada di titik garis luar kurva, ya mungkin teori itu masih bisa berlaku untuk sebagian besar keluarga. Yang jelas tidak dengan keluarga gue.
Disc: postingan ini tidak untuk membanding-bandingkan Sulung dan Bungsu, tidak untuk mengkritik pola asuh orang tua gue dan manapun, hanya untuk meluapkan sedikit kekesalan gue dan throwback (sekaligus menyombongkan?) hal-hal yang sudah gue lakukan sebagai penyandang titel Si Bungsu.
Comments
Post a Comment