Skip to main content

[What's really going on, buddy?]

Udah super lama gue gak menulis disini, terhitung semenjak gue menghapus ratusan postingan gue -mungkin 2015? I don't really remember. Kangen sih, tapi kadang have no idea untuk nulis apa. Kemampuan gue untuk mencuraahkan pikiran udah gak terlatih lagi. Gatau kenapa sih, dulu pas masuk dunia perkuliahan gue ngerasa diri gue better dari diri gue yang sebelumnya. Tapi makin kesini gue makin sadar bahwa produktivitas gue kayanya makin menurun. Cara berpikir gue sekarang juga makin gak jelas. Sekarang gue kalo cerita ke orang bertele-tele banget, gak gampang dimengerti orang. Gue suka dapet banyak keluhan mengenai ini, dan ini makin ngebuat gue maes untuk menceritakan suatu hal yang runut ke orang banyak, termasuk menulis disini. Meskipun pada dasarnya gue menulis ya hanya untuk diri gue sendiri.

Bicara tentang "bercerita mengenai diri", gue sendiri makin kesini makin sadar. Sadar bahwa gak ada orang yang bener bener tau tentang diri gue, even diri gue sendiri. Gue bingung sekaligus worry. Gue menemukan diri gue sering menangis sendirian di malam hari, tanpa ada intensi untuk menceritakan masalah gue sebenarnya ke orang terdekat. Gue punya sahabat -dari gue umur 7 tahun, which means udah 15 taun umur temenan kita-, dan gue tau dia salah satu orang yang paling bisa dipercaya di dunia ini, meskipun pada dasarnya gue emang ga bisa percaya sedalem itu ama orang. Tapi menurut gue gak adil ketika dia udah menceritakan seisi hidupnya dia ampe ke ujung jempol kaki, sedangkan gue cuma cerita sebatas kerongkongan. Ketika gue punya pikiran untuk cerita ke orang lain tentang permasalahan gue ke orang lain, gue ngerasa kayak ketahan aja. Seluruh tubuh dan jiwa gue menolak. Ya, sampe akhirnya gue menangis sesegukan, ngerasa sesak nafas sendiri, hampir tiap malam selama 1 atau 2 tahun kebelakang ini. I feel good to finally have a chance to write it all down. Gue bahkan gak pernah menulis ini di buku diary gue, karena ada pikiran bahwa suatu saat nanti gue akan mati dan gue gak ingin buku diary gue dibaca oleh orang lain.

Gue sempet berpikir gue hampir gila. Gue juga beberapa kali punya pemikiran yang cenderung tergolong self-diagnose, dimana gue -as a psychology student- tau persis itu gak boleh dilakukan. Gue gak punya kekuatan untuk cari pertolongan ke expert. Dulu, di akhir 2016, gue pernah memutuskan untuk konsultasi ke salah satu profesional, dan berakhir dengan tanggapan tidak menyenangkan dari lingkungan terdekat gue. Dan buat gue, itu salah satu hal paling traumatik, sampe sampe gue gaingin cerita ke siapa siapa lagi tentang apa yang gue alami, terutama kesedihan. No one ever really knows how I feel these days. Mungkin karena hal itu. I'll share if I can overcome this kind of problems. Tapi satu yang gue tau, kalo lo punya masalah serupa dan lo punya akses untuk kesana, I highly recommend you untuk mengunjungi profesional. Demi kesehatan seantero sisa hidup lo dan orang sekitar lo.

Comments

Popular posts from this blog

[The End]

[The End] Hi, 2017. Thank you for all the memories you gave. They are wonderful yet painful at the same time. I had no day without tears, but it’s really okay for me. I am grateful that I was blessed with strength to through it all. I am grateful that I was not ended up insane. I am grateful that I stand still. I through a lot of ups and down, eventhough I don’t really have any ups on my 2017. This year, I learnt so much about life, about my self and who I really am. This year such a blessing year, yet the worst, so far. I don’t want any worse years ahead. I can’t even express how I really hate this year, What I am struggling for. Actually I didn’t know and would never know about it. I, the one who used to be a very optimistic girl, turned to be the most pessimistic person. I, the one who not used to tears, turned to be the girl who cried every single night. I, the one who used to think that everything is possible and there are so much way to get it, turned to be the one that b...

[Till We Meet Again]

Hai, gue menulis ini hanya karena rasa bosan yang berkepanjangan. Sedikit juga berharap agar bisa rutin menulis, untuk sebuah buku mungkin? Dulu gue sangat sangat sangat suka nulis. Tadinya rajin banget di Blog, terus karena satu dan lain hal di awal semester tiga perkuliahan, gue memutusukan untuk menghapus seantero blog gue, termasuk 100 lebih tulisan gue tentang hidup. Sayang banget gasih? Gue juga nyesel. Apalagi pas inget karena alasan utama gue adalah gue malu. Tulisan gue gak begitu bermutu, kayak teman teman gue yang baru gue temui saat itu. At least, gue ngerasanya gitu. Logika gue (yang selama ini gue kira fine fine aja) ternyata masih jauh belum terasah dibandingkan teman teman gue. Tulisan gue masih seenak jidat, gak rapih kayak yang lain, yang alurnya bisa dibaca tanpa bosan sama orang lain. Menarik. Dari situ, gue merasa bahwa gue gak seharusnya menulis. Gue takut tulisan gue dibaca orang lain. Takut ditertawakan. Sampai pada suatu hari, di liburan gue yang super me...