Skip to main content

[Till We Meet Again]



Hai, gue menulis ini hanya karena rasa bosan yang berkepanjangan. Sedikit juga berharap agar bisa rutin menulis, untuk sebuah buku mungkin? Dulu gue sangat sangat sangat suka nulis. Tadinya rajin banget di Blog, terus karena satu dan lain hal di awal semester tiga perkuliahan, gue memutusukan untuk menghapus seantero blog gue, termasuk 100 lebih tulisan gue tentang hidup. Sayang banget gasih? Gue juga nyesel. Apalagi pas inget karena alasan utama gue adalah gue malu. Tulisan gue gak begitu bermutu, kayak teman teman gue yang baru gue temui saat itu. At least, gue ngerasanya gitu. Logika gue (yang selama ini gue kira fine fine aja) ternyata masih jauh belum terasah dibandingkan teman teman gue. Tulisan gue masih seenak jidat, gak rapih kayak yang lain, yang alurnya bisa dibaca tanpa bosan sama orang lain. Menarik. Dari situ, gue merasa bahwa gue gak seharusnya menulis. Gue takut tulisan gue dibaca orang lain. Takut ditertawakan.
Sampai pada suatu hari, di liburan gue yang super membosankan ini, gue nonton variety show Korea. Salah satu episodenya mengundang psychologist/psychoanalyst untuk menganalisis sebuah boyband gitu. Salah satu anggota boyband itu nanya mengenai suatu hal yang dia anggap sebagai kelamahannya. Psychologist itu menjawab dengan hal yang menurut gue predictable tapi tetep aja bikin hati gue kayak kedorong, pipi gue kayak ketampar. Dia bilang “itu bukan kelemahan. Kelemahan itu gak ada. Kelemahan itu bisa seakan ada karena lo ngebandingin dengan orang lain”. Gue banyak belajar dari video youtube yang mungkin dinilai gak bermutu bagi orang lain, termasuk video tersebut. Satu lagi, gue juga dapetin dari video anak rantau Indonesia di Jerman yang gak gue tonton sampe habis. Dia berkomitmen sama dirinya sendiri untuk bertemu banyak orang di tahun 2016. Itu lebih menampar. Gue sedang berada pada masa dimana gue mengisolasi diri gue, dan gue tau gue sedang dalam keadaan tidak sehat jiwa. Gue tau persis, since gue anak Psikologi. Tapi gue gak mencari pertolongan. Gatau kenapa. No, gue tau kenapa. Tapi gue hanya tidak jujur pada diri gue. I’ll tell you.
Gue pernah mencari pertolongan, di tahun 2016. Gue datang ke klinik Psikologi kampus gue, bertemu seorang kakak S2. Gue dapet banyak pencerahan dari dia. Terus tiba tiba sesi gue di cut, gue gatau kenapa. Mungkin karena dia cuman anak S2. Tapi dari situ gue sadar akan dua hal. Pertama, gue belom jujur sama diri gue sendiri. Kedua, gue butuh orang.  Dari situ gue masih suka melakukan terapi yang dianjurkan oleh kakaknya, salah satunya menulis. Suatu saat gue bilang ke abang gue kalo gue ke Psikolog. Gue gapernah tau tanggapannya dia yang sebenarnya kaya gimana. Dia datar aja menurut gue. Dia malah bilang bahwa pacarnya butuh psikolog juga. Gue gak begitu peduli, sejujurnya. Terus abang gue sakit. Mulailah gue mengerjakan semua keperluan rumahh tangga dan kuliah juga, dengan adanya isu penurunan finansial juga dalam keluarga gue. Di kampus gue mungkin terlihat murung dan sangat Lelah. Teman gue dengan diam-diam memasukkan sekotak coklat k etas gue dan dikasih notes untuk menyemangati gue. Terharu, gue unggahlah hal itu ke Instagram. Mulai dari sini semua perkara terjadi.
Abang gue ngeliat postingan itu dan gue yakin 99,9% dia bilang ke nyokap gue. Mungkin maksudnya khawatir, tapi interpretasi nyokap gue gak pernah baik baik aja kalo udah menyangkut masalah kesedihan. Di kampus gue nugas sampe sore, terus tiba tiba ditelfon, ditanya kenapa gak pulang. Ya, gue gatau juga kan ngapain pulang, dengerin orang marah marah, gak produktif. Pas gue pulang, diajak bicaralah gue sama nyokap gue. DItanya gue kenapa dan end up dimarahin. Marah besar. Gue inget banget itu hari Selasa. Pas Rabu gue ngampus dengan mata segede gede biji salak. Intinya nyokap gue nyuruh gue untuk ngerepress segala kesedihan gue. I did. Gue melenyapkan buku harian gue, sering uninstall ig, dan melarang diri gue sendiri untuk dengan sengaja bercerita pada siapapun.
Di tahun 2017, gue berusaha kuat dengan keputusan gue, meskipun hari hari gue berakhir dengan tangisan tiap malamnya. I don’t mind. Asal nyokap gue gak marah. Sampe sekarang pun gitu. Gue masih menyimpan semuanya, dan gue jadi gak pengen ketemu orang. Buat gue orang orang itu sangat complicated dan menimbulkan amarah. Gue menjadi negative-minded dalam waktu yang sangat singkat. Tapi di hari ini, ada hal yang membuat gue tergerak untuk mengasihani diri gue. Teman gue, yang gue kenal sebagai orang yang paling tidak terbuka meskipun kehidupan sosialnya sangat baik, ngefollow ig gue dengan akun keduanya. Gue baca semua postingan dia. Tentu saja, gue menemukan sisi baru dari dia. Gue gak kaget kalo dia punya banyak pengalaman tidak menyenangkan dalam hidupnya, tapi gue kaget dia bisa dengan bebas bercerita dalam akun keduanya itu.  Gue kaget dan iri. At least, dia bisa membiarkan dirinya bebas, meski hanya sebagian kecil dirinya yang bebas.
Teman gue yang lain, yang bahkan menjadi pengguna aktif anti-depresan, punya tempat untuk pulang, yaitu pacarnya. Dia bisa seterbuka itu meskipun hanya pada satu orang. Gue iri. Bukan karena gue gak punya pacar, tapi karena dia bisa dan mau untuk mengungkapkan hal terdalam dari dirinya pada orang lain. Ketika gue melihat orang lain yang “bermasalah” punya at least satu orang yang bener bener tau tentang dirinya, gue disini yang terlihat sangat “sehat” gak punya satu orang pun untuk berbagi. Gue yang mengasihani orang lain ternyata menjadi orang yang paling kasian, hanya karena gue gak berani jujur dengan diri gue sendiri, dan gue gak merasa punya orang lain. I pity myself.

23.01.2018

Comments

Popular posts from this blog

[The End]

[The End] Hi, 2017. Thank you for all the memories you gave. They are wonderful yet painful at the same time. I had no day without tears, but it’s really okay for me. I am grateful that I was blessed with strength to through it all. I am grateful that I was not ended up insane. I am grateful that I stand still. I through a lot of ups and down, eventhough I don’t really have any ups on my 2017. This year, I learnt so much about life, about my self and who I really am. This year such a blessing year, yet the worst, so far. I don’t want any worse years ahead. I can’t even express how I really hate this year, What I am struggling for. Actually I didn’t know and would never know about it. I, the one who used to be a very optimistic girl, turned to be the most pessimistic person. I, the one who not used to tears, turned to be the girl who cried every single night. I, the one who used to think that everything is possible and there are so much way to get it, turned to be the one that b...

[What's really going on, buddy?]

Udah super lama gue gak menulis disini, terhitung semenjak gue menghapus ratusan postingan gue -mungkin 2015? I don't really remember. Kangen sih, tapi kadang have no idea untuk nulis apa. Kemampuan gue untuk mencuraahkan pikiran udah gak terlatih lagi. Gatau kenapa sih, dulu pas masuk dunia perkuliahan gue ngerasa diri gue better dari diri gue yang sebelumnya. Tapi makin kesini gue makin sadar bahwa produktivitas gue kayanya makin menurun. Cara berpikir gue sekarang juga makin gak jelas. Sekarang gue kalo cerita ke orang bertele-tele banget, gak gampang dimengerti orang. Gue suka dapet banyak keluhan mengenai ini, dan ini makin ngebuat gue maes untuk menceritakan suatu hal yang runut ke orang banyak, termasuk menulis disini. Meskipun pada dasarnya gue menulis ya hanya untuk diri gue sendiri. Bicara tentang "bercerita mengenai diri", gue sendiri makin kesini makin sadar. Sadar bahwa gak ada orang yang bener bener tau tentang diri gue, even diri gue sendiri. Gue bingung ...